Direktorat Kepengasuhan

Waspadai Pluralisme hingga Hidupkan Learning Society di UNIDA Gontor

Rektor Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, Prof. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed,. M.Phil menyampaikan Mimbar Rektor tentang mewaspadai gerakan pluralisme di Indonesia. Rektor mengawali pidatonya di depan jama’ah sholat Jum’at dengan mengomentari pernyataan seorang akademisi di Indonesia bahwa ayat-ayat Injil baik dan sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan. Pernyataan tentu sangat tidak bisa dibenarkan sebagai seorang Muslim. Rektor mengomentari masalah toleransi antar umat beragama di Indonesia yang sudah kelewatan. Toleransi yang terjadi saat ini sampai membenarkan keyakinan agama lain. “Jangan sampai ada yang karena ingin toleransi kemudian mengapresiasi keyakinan org lain! di Indonesia seperti ini terjadi, sudah terjadi dan akan terjadi!” pesan Prof. Hamid. Beliau tidak ingin ada alumni UNIDA Gontor yang mengikuti hal demikian bahkan menjadi misionaris.

Di samping meluruskan masalah toleransi, beliau juga meluruskan masalah sejarah Fiqih Islam. Ada pernyataan bahwa Fiqih diciptakan pada abad pertengahan dan perang Salib. Beliau menjelaskan, Fiqih sudah ada jauh sebelum perang Salib. Para ulama madzhab besar dalam Islam telah lahir sejak abad VIII dan IX, yang mana abad itu perang Salib belum terjadi. Selain masalah sejarah, Fiqih menurut pernyataan yang berlaku diciptakan untuk kepentingan politik semata. Padahal, Fiqih bukan hanya perkara ijtihadiyah furu’iyyah namun juga ada masalah-masalah aqidah yang menjadi pokok keyakinan umat Islam. “Ada hal yang muhkamat yang menjadi dasar dari mutasyabihat ada ijtihad yang basisny adalah hal-hal yang sifatnya muhkamat,” ujar beliau.

Beliau berpesan, untuk menjadi seorang mujtahid, seseorang harus memiliki kemampuan bahasa Arab yang baik dan memahami Ulumul Qur’an, mulai dari ilmu Asbabun Nuzul, nasikh dan mansukh, makna-makna qiroat dsb. Menjadi seorang mujtahid menurut beliau bukan perkara mudah. Apabila orang-orang tidak memahami ilmu-ilmu di atas melakukan ijtihad, yang terjadi adalah rekontekstualisasi fiqih yang harus menyesuaikan dengan hukum yang ada di zaman sekarang. Untuk membendung hal ini, perlu ada orang-orang yang peduli dengan nasib Islam dan umat Islam. “Ini diperluakan persiapan ke depan, orang-orang yang memikirkan Islam, yang peduli dengan umat, mengerti Islam,” pesan Prof. Hamid.

Setelah membahas masalah toleransi, Rektor mengevaluasi kehidupan kampus yang terjadi selama minggu ini. Terdapat beberapa hal yang menjadi evaluasi bersama, yaitu masalah disiplin, fasilitas wi-fi kampus, shalat berjama’ah, dan kajian. Beliau menegaskan kembali agar mahasiswa tinggal di asrama dan tidak tidur di kantor-kantor dan laboratorium. Begitu pun Gedung Utama agar tutup jam 21:00.

Berkenaan dengan fasilitas wi-fi, Rektor menyampaikan akan memperkuat jaringan internet di UNIDA Gontor dan melarang penggunaan wi-fi ilegal di asrama. Penyebabnya adalah karena wi-fi ilegal banyk digunakan untuk hal yang sia-sia seperti nonton film dan bermain game. Padahal, mahasiswa dipersiapkan untuk menjadi pemimpin di masa depan. “Kita ingin menghasilkan pemimpin-pemimpin bangsa ini, umat ini dengan kualitas yang terbaik. Jangan membuang-buang waktu selama Anda di sini!”

Terkait shalat berjamaah, beliau ingin agar shalat berjama’ah di mashid dihalakkan kembali. Shalat berjama’ah di masjid memiliki berbagai fadhilah dan barokah yang bisa diraih oleh semua yang melaksanakannya. Mahasiswa bisa berdiskusi dengan rekan-rekannya setelah shalat berjamaah. Beliau mencontohkan, bahwa beliau bersama para rektorat dan dekanat sering menyelesaikan berbagai masalah yang ada di masjid setelah shalat berjama’ah. “Di sini bisa diselesaikan masalahnya karena kita berjamaah,” kata Prof. Hamid mencontohkan.

Terakhir, beliau menyampaikan agar tradi kajian kita turats terus dilanjutkan. UNIDA Gontor bagi beliau memiliki sumber ilmu yang sangat banyak. Mahasiswa bisa memanfaatkannya selam 24 jam. Beliau ingin agar situasi belajar terus hidup di UNIDA Gontor sehingga menjadi learning society. “Ini tolong kita sepakati bahwa kita adalah learning society, masyarakat belajar! Tidak ada tempat di sini kecuali belajar,” pesan beliau menutup pidatonya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *